Ada banyak cara orang Indonesia menikmati jeda. Sebagian memilih kopi panas, sebagian mencari teman bicara, sebagian lagi cukup duduk di teras sambil melihat lalu-lalang orang dan kendaraan. Dalam suasana semacam itu, rokok kerap hadir sebagai kawan lama: tidak banyak bicara, tapi selalu dicari.
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, rokok bukan sekadar barang konsumsi. Ia sudah lama masuk ke dalam ritme hidup sehari-hari. Menemani petani selepas dari sawah, sopir ketika menunggu penumpang, pekerja saat jam istirahat, hingga obrolan malam di warung kopi yang sering kali lebih ramai dari rapat resmi.
Karena itu, memilih merek rokok biasanya bukan urusan gaya hidup, apalagi pencitraan. Orang Indonesia cenderung sederhana dalam perkara ini: kalau cocok, ya lanjut. Kalau tidak cocok, bungkus bagus pun percuma.
Di titik itulah King Djava Filter Bolong tampaknya paham medan.
Produk ini datang dengan watak yang jelas: kretek mesin filter dengan rasa mantap, tetapi tetap nyaman dinikmati. Ada penikmat rokok yang menyukai rasa tegas, namun tidak ingin tenggorokannya diperlakukan seperti jalan berlubang. Untuk golongan inilah tipe semacam ini biasanya lekas mendapat tempat.
Rasa tembakaunya terasa, aroma kreteknya hadir, namun tidak disusun secara kasar. Ada isi, ada bobot, tetapi tidak berlebihan. Pendek kata, kuat tanpa perlu sok keras.
Yang menarik tentu soal filter bolongnya.
Bagi yang tidak merokok, ini mungkin terdengar seperti perkara kecil. Tetapi bagi penikmat rokok, filter itu urusan serius. Ia menentukan tarikan, aliran udara, sampai kenyamanan saat dihisap. Dalam beberapa kasus, filter bahkan lebih menentukan nasib hubungan antara perokok dan mereknya dibanding iklan berjuta-juta rupiah.
Filter bolong memberi sensasi tarikan yang lebih ringan dan lancar, tanpa menghilangkan karakter rasa. Ini jenis inovasi yang tidak banyak berteriak, tetapi terasa ketika dicoba. Berbeda dengan sebagian produk lain yang berubah hanya di kemasan, sementara isi tetap seperti mantan: penuh janji, minim perkembangan.
Soal tampilan, King Djava cukup percaya diri. Dominasi warna hitam dan merah memberi kesan tegas, rapi, dan maskulin. Nama “King” dipasang menonjol, seolah ingin mengatakan bahwa di rak etalase pun seseorang perlu wibawa.
Namun King Djava tidak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan bagian dari keluarga brand Djava milik PT Empat Sekawan Mulia (ESM), perusahaan asal Pamekasan, Madura—wilayah yang sudah lama akrab dengan tradisi tembakau.
Dari sana ada pesan yang terasa sederhana namun penting: kualitas tidak selalu lahir dari kota besar. Kadang justru datang dari daerah yang lebih mengenal tanah, cuaca, dan daun tembakau dibanding orang kota yang mengenal tembakau hanya lewat cukai.
Mungkin itu sebabnya King Djava terasa dekat dengan kebiasaan orang Indonesia: sederhana dalam penampilan, kuat dalam karakter, dan tidak gemar banyak omong. Ia tampaknya paham bahwa kesetiaan konsumen di negeri ini tidak dibeli dengan slogan, melainkan dibangun lewat rasa yang pas dari hari ke hari.
Pada akhirnya, orang Indonesia biasanya setia pada hal-hal yang membuat nyaman: warung langganan, kopi favorit, kursi teras yang mulai miring sebelah, dan merek rokok yang dirasa cocok.
King Djava Filter Bolong tampaknya ingin masuk ke daftar itu. Bukan sekadar untuk dicoba sekali, melainkan untuk dicari lagi ketika bungkus lama tinggal cerita. (PT ESM)